Skip to content
Home » Rotasi Karyawan: Manfaat dan Tantangan Implementasi pada Karyawan PKWT

Rotasi Karyawan: Manfaat dan Tantangan Implementasi pada Karyawan PKWT

  • by

Rotasi karyawan atau rotasi jabatan merupakan strategi manajemen yang melibatkan perpindahan karyawan secara horizontal dari satu posisi ke posisi lain di dalam satu departemen atau antar-departemen dalam level jabatan yang setara. Para manajer, HRD, atau pemimpin perusahaan sering kali melakukan rotasi karyawan secara berkala sebagai upaya penyegaran di dalam organisasi. Meskipun memiliki berbagai manfaat, implementasi rotasi karyawan pada karyawan dengan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) menimbulkan sejumlah tantangan.

rotasi karyawan

Manfaat Rotasi Karyawan

Rotasi karyawan memiliki sejumlah manfaat penting yang dapat meningkatkan efisiensi dan dinamika organisasi. Berikut adalah beberapa di antaranya:

  1. Mengatasi Kejenuhan Kerja: Pekerjaan yang monoton dalam jangka panjang dapat menyebabkan kejenuhan pada karyawan. Rotasi membantu menyegarkan kembali semangat kerja dengan memberikan tantangan baru.
  2. Identifikasi Bakat: Dengan memindahkan karyawan ke berbagai posisi, perusahaan dapat mengidentifikasi bakat terpendam dan potensi karyawan yang mungkin tidak terlihat dalam posisi sebelumnya.
  3. Mencegah Ketergantungan: Organisasi yang terlalu bergantung pada satu individu atau tim rentan terhadap risiko. Rotasi membantu menyebar pengetahuan dan keterampilan di antara karyawan, sehingga mengurangi risiko tersebut.
  4. Pelatihan dan Pengembangan: Rotasi memungkinkan karyawan untuk mempelajari keterampilan dan pengetahuan baru, yang dapat meningkatkan kemampuan dan fleksibilitas mereka.
  5. Memulihkan Motivasi: Pindah ke posisi baru dapat memberikan motivasi tambahan bagi karyawan, karena mereka merasa dihargai dan dipercaya untuk mengambil peran yang berbeda.

Tantangan Rotasi Karyawan pada PKWT

Meskipun manfaatnya jelas, menerapkan rotasi pada karyawan dengan PKWT tidaklah sederhana. Beberapa kendala yang muncul antara lain:

  1. Mengubah Isi PKWT: Hubungan kerja karyawan kontrak diatur melalui PKWT yang harus dibuat secara tertulis dan didaftarkan ke Kementerian Ketenagakerjaan atau Dinas Ketenagakerjaan setempat. PKWT mencakup pokok-pokok kesepakatan seperti jenis pekerjaan, jabatan, divisi, lokasi kerja, dan upah, yang tidak mudah diubah.
  2. Persetujuan Karyawan: Menurut Pasal 55 UU Ketenagakerjaan, perubahan PKWT hanya bisa dilakukan dengan persetujuan kedua belah pihak. Artinya, setiap perubahan terkait rotasi harus disepakati oleh karyawan yang bersangkutan.
  3. Efisiensi dan Efektivitas: Mengingat hubungan kerja dan sifat pekerjaan PKWT yang sementara, upaya merotasi karyawan kontrak sering kali tidak efisien dan efektif, terutama jika jangka waktu PKWT cukup pendek.

Solusi untuk Implementasi Rotasi PKWT

Meskipun terdapat tantangan, ada beberapa cara yang dapat ditempuh untuk melakukan rotasi karyawan PKWT:

  1. Memasukkan Ketentuan Rotasi dalam PKWT: Jika perusahaan memprediksi kemungkinan rotasi di masa depan, misalnya untuk pekerjaan uji coba atau proyek yang berbeda, ketentuan rotasi bisa dimasukkan dalam kontrak awal. Dengan menyatakan bahwa karyawan dapat dipindahkan ke pekerjaan, jabatan, atau divisi lain selama masa PKWT, perusahaan dapat melakukan rotasi tanpa perlu mengubah kesepakatan awal.
  2. Rotasi dengan Perpanjangan Kontrak: Apabila ketentuan rotasi tidak tercantum dalam PKWT awal, rotasi bisa dilakukan dengan perpanjangan kontrak. Draft perpanjangan PKWT harus mencakup perubahan jenis pekerjaan, jabatan, divisi, dan lokasi kerja yang disepakati oleh karyawan. Perusahaan juga harus membayarkan uang kompensasi sesuai ketentuan di PP No 35/2021 sebelum perpanjangan dilakukan.
  3. Pemutusan Kontrak Sepihak dan Pembentukan Kontrak Baru: Jika rotasi mendesak dan tidak dapat menunggu hingga akhir masa PKWT, perusahaan dapat memutus kontrak sepihak dan menyodorkan kontrak baru dengan posisi yang berbeda. Pemutusan ini harus diikuti oleh pembayaran kompensasi sesuai dengan jangka waktu PKWT yang telah dijalani karyawan.
  4. Rotasi dengan PKWTT: Untuk pekerjaan yang sifatnya tetap, satu-satunya cara adalah mengubah PKWT menjadi PKWTT dan mengangkat karyawan kontrak menjadi karyawan tetap. Ini sesuai dengan ketentuan UU Cipta Kerja No 6 Tahun 2023, yang menyatakan bahwa karyawan PKWT yang dipekerjakan untuk pekerjaan tetap harus diangkat menjadi karyawan tetap (PKWTT).

Perhitungan Gaji Karyawan PKWT

Gaji karyawan PKWT dihitung berdasarkan beberapa komponen, seperti:

  1. Upah/Gaji Pokok: Upah pokok bersifat tetap dan teratur, namun dapat dipengaruhi oleh kehadiran.
  2. Tunjangan Kehadiran: Dihitung berdasarkan jumlah hari masuk kerja karyawan.
  3. Uang Lembur: Dihitung sesuai ketentuan upah lembur di PP No 35/2021.
  4. BPJS: Perusahaan wajib memberikan tunjangan BPJS untuk PKWT lebih dari 3 bulan.
  5. THR Keagamaan: Diberikan sebesar 1 bulan upah untuk karyawan PKWT yang telah bekerja 12 bulan atau lebih, dan proporsional untuk mereka yang bekerja lebih dari 1 bulan tetapi kurang dari 12 bulan.

Kesimpulan

Rotasi karyawan merupakan strategi penting dalam manajemen sumber daya manusia yang dapat memberikan berbagai manfaat bagi organisasi dan karyawan. Namun, penerapannya pada karyawan PKWT memerlukan perhatian khusus terhadap peraturan ketenagakerjaan dan kesepakatan dalam PKWT. Dengan perencanaan dan kebijakan yang tepat, rotsi PKWT dapat dilakukan secara efektif, memberikan manfaat optimal bagi perusahaan dan karyawan.